fbpx
Boleh atau Tidak? Mengecat Rambut Saat Hamil

Boleh atau Tidak? Mengecat Rambut Saat Hamil

Tampil cantik saat hamil memang tetap diperlukan ya, bahkan banyak wanita sekarang yang memutuskan untuk mengecat warna rambutnya agar terlihat lebih menarik. Loh kira-kira aman gak ya? Menurut American Pregnancy Association, sebagian besar penelitian menunjukkan bahan kimia yang ada di pewarna rambut semi permanen dan permanen enggak beracun dan aman untuk digunakan selama kehamilan.    

Namun, beberapa saran berikut sebaiknya diikuti jika Anda ingin mewarna rambut saat hamil.

1.    Gunakan Cat Berbahan Alami atau Rendah Amoniak

Sebaiknya bila Anda ingin mewarnai rambut saat hamil, gunakan cat rambut yang rendah amoniak.  Atau pilihlah yang berbahan alami seperti Henna, yaitu cat rambut dari tumbuh-tumbuhan.

2.    Sarung Tangan dan Ventilasi Udara

Gunakan sarung tangan untuk menghindari kontak langsung dengan bahan kimia pewarna rambut. Bukalah jendela selagi mengecat rambut agar sirkulasi udara lebih baik. Bau cat pewarna rambut yang keras dapat menambah rasa mual atau pusing pada ibu hamil.

baca juga : tips mengatasi bayi cegukan

3.    Hindari Kontak dengan Kulit Kepala

Highlight rambut lebih disarankan dibandingkan dengan mewarnai seluruh rambut saat hamil. Hal ini karena area yang terpapar pewarna lebih sedikit dan berada  1-2 cm di atas kulit kepala. Dengan demikian, kontak langsung dengan kulit kepala selama proses pengecatan dapat dihindari.

Namun, jika Anda masih ragu untuk menggunakan pewarna rambut pada masa kehamilan. Mungkin bisa berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter, namun beberapa dokter merekomendasikan untuk menunggu setidaknya sampai trimester kedua atau ketiga, bahkan setelah kehamilan

sumber : www.theasianparent.id

www.haibunda.com

https://www.haibunda.com/kehamilan/20190401161542-49-37079/boleh-atau-tidak-mengecat-rambut-saat-hamil-seperti-nikita-mirzani

Tips Mengatasi Bayi Cegukan

Tips Mengatasi Bayi Cegukan

            Cegukan seringkali membuat seseorang yang mengalaminya merasa tidak nyaman. Namun hal ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa loh. Pernahkan sebelumnya Anda melihat seorang bayi pun mengalami cegukan? Sebagian orang pastinya akan merasa khawatir atau panik jika mendapati anaknya mengakami hal tersebut.

Kira-kira apa penyebab cegukan itu ya? cegukan pada bayi disebabkan oleh kontraksi diafragma dan adanya penutupan pita suara yang cepat. Penutupan pita suara yang cepat inilah yang menciptakan suara cegukan. nah pada berikut ini ini ctasara-cara bagaimana mengatasi cegukan pada sang buah hati. Yaitu :

  • Sendawakan bayi

Menyendawakan bayi biasanya akan mampu membantu menghilangkan cegukan, karena bersendawa dapat menghilangkan kelebihan gas yang mungkin menyebabkan bayi Anda cegukan. Caranya mudah Anda hanya perlu menggosokatau tepuk lembut bagian belakang bayi ketika ia mengalami cegukan, namun jangan sampai  menekan punggung bayi terlalu keras.

  • Gunakan dot

Cegukan pada bayi tidak selalu terjadi akibat menyusui. Ketika bayi Anda mulai cegukan, coba Anda biarkan mereka untuk mengisap dot. Cara ini dinilai akan membantu merilekskan diafragma dan dapat membantu menghentikan cegukan biasanya dengan sendirinya cegukan akan berhenti.

  • Memberikannya air

Jika bayi Anda merasa tidak nyaman karena cegukannya atau bahkan sampai rewel, maka Anda mungkin boleh mencoba memberi mereka air minum. Jika bayi Anda masih berusia di bawah 6 bulan, Anda bisa menyusuinya. Sedangkan jika usia bayi Anda di atas 1 tahun, Anda bisa memberikannya air herbal.

Air herbal yang dimaksud disini adalah kombinasi dari tumbuh-tumbuhan dan air yang diyakini oleh beberapa orang dapat membantu mengatasi masalah pencernaan. Jenis-jenis air herbal ini dapat bervariasi, misalnya seperti jahe, adas, chamomile, dan kayu manis. Namun Sebelum Anda memberi bayi sesuatu yang baru, usahakan untuk selalu berkonsultasi dan membicarakannya dengan dokter terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar niat Anda untuk mengobati sang buah hati dapat terjamin keamanannya.

baca juga : usia paling ideal untuk hamil

Kemudian ada cara0cara yang dirasa cukup mampu mencegah cekukan pada bayi walaupun tidak selalu berhasil, tetapi rasa-rasanya perlu untuk di coba ya Bun, ini lah cara-cara pencegahannya:

  • Pastikan bayi Anda tenang saat Anda memberinya makan. Ini berarti tidak menunggu sampai bayi merasa sangat lapar sehingga bertindak kesal dan menangis sebelum menyusui dimulai.
  • Setelah menyusui, hindari aktivitas berat dengan bayi Anda, misalnya seperti mengayunnya ke atas dan ke bawah atau bermain yang menghabiskan energi tinggi-tinggi lainnya.
  • Jaga bayi Anda dalam posisi tegak selama 20 hingga 30 menit setelah makan.

Itulah beberapa tips-tips yang bisa Anda coba untuk menjaga bayi Anda agar terhindar dari cekukan….

sumber : id.theasianparent.com

Usia Paling Ideal Untuk Hamil

Usia Paling Ideal Untuk Hamil

Pasangan yang telah menikah pastinya akan menantikan kehadiran sang buah hati. Banyak cara yang dilakukan orang-orang untuk mendapatkan anak, misalnya seperti melalu bayi tabung, dll. Keinginan wanita untuk bisa cepat memiliki bayi terkadang juga karena dilatarbelakangi oleh tuntutan keluarga, atau rasa iri melihat teman atau saudara yang telah dikarunia buah hati terlebih dahulu.

Namun sebenarnya pada usia berapakah wanita dinilai ideal untuk hamil?

Menurut para peneliti dan beberapa studi usia ideal untuk wanita hamil yaitu di awal usia 20 tahun. Dapat dikatakan pada usia 21 sampai 23 tahun adalah peristiwa terbaik untuk hamil dan memiliki bayi.

Karena mereka yang berusia di awal 20 tahun ini biasanya lebih mudah terbangun di malam hari untuk mengurus keperluan mendesak pada sang bayi, misalnya seperti mengganti popok, memberi susu atau ASI. Sedangkan jika yang mengalami itu adalah wanita yang lebih dari usia 20 tahun untuk bayi pertamanya. Hal ini lebih cenderung menimbulkan masalah bagi wanita tersebut, terutama rasa frustasi.

baca juga : Tanda-tanda Kehamilan Anak Perempuan

Memiliki anak di umur berapapun memang selalu berdampak menyenangkan bagi ibu dan keluarga, namun perlu Anda pikirkan juga jika Anda sudah berusia tidak lagi muda. Semua kehamilan memiliki risiko, dan ternyata risiko-risiko tersebut semakin meningkat pada kehamilan di usia tua. Angka kematian ibu naik secara tetap dari 9 per 100.000 pada usia 25-29 tahun menjadi 66 per 100.000 sesudah usia 40 tahun. Hal ini dapat disimpulkan bahwa risiko kematian ibu meningkat pesat seiring dengan bertambahnya usia ibu saat hamil dan melahirkan. Selain itu, karena sel telur wanita telah diproduksi sejak lahir maka ketika semakin tua seorang wanita mengandung maka resiko untuk terjadinya abnormalitas dalam kehamilan cenderung akan semakin besar. Gangguan dalam kehamilan ini tidak hanya dapat mengancam janin yang dikandung, namun juga dapat mengancam nyawa ibu. 

Maka dari itu bagi Anda yang sudah menikah dan menanti kehadiran sang buah hati mulai sekarang sudah harusnya merencanakan masa kehamilan bersama pasangan atau berkonsultasi ke dokter.

sumber : hellosehat.com merdeka.com

Tanda-tanda Kehamilan Anak Perempuan

Tanda-tanda Kehamilan Anak Perempuan

            Pada masa kehamilan jenis kelamin sang janin begitu membuat penasaran Ibu dan keluarga. Namun tahukah? Ternyata ada loh tanda-tanda yang dapat mengindikasikan jenis kelamin sang janin yang berada di dalam kandungan. Memiliki anak perempuan tidak kalah membahagiakannya dengan memiliki anak lelaki. Apalagi jika Bunda memiliki hobi untuk mendadani, atau mematchingkan pakaian Bunda dan sang buah hati pastinya kehadirannya mereka semakin menyenangkan ya. Nah pada kali ini kita akan membahas tanda-tanda apa saja yang dirasakan jika seseorang telah mengandung anak perempuan.  Diantaranya ialah :

1.    Morning sickness

Berbeda jika mengandung anak laki-laki, kehamilan anak perempuan cenderung membuat ibu hamil sering mengalami morning sickness atau mual yang berlebih. Hal ini berkaitan dengan peningkatan kadar hormon dan gula darah yang menurun selama kehamilan, bukan berarti ibu yang hamil anak laki-laki sudah pasti nggak bakal mengalami morning sickness parah. Terlebih morning sickness juga dipengaruhi kondisi fisik masing-masing ibu.

2. Ngidam

Saat mengalami masa ngidam kehamilan anak perempuan, ibu yang sedang hamil lebih sering menginginkan makanan manis daripada makanan pedas atau asam.

baca juga : Pentingnya Mengajarkan Anak Dua Bahasa

3.    Posisi Perut

Bentuk dan posisi perut adalah tanda-tanda kehamilan lainnya yang bisa menjadi indikator jenis kelamin bayi yang dikandung. Perut yang cenderung menurun menandakan Anda hamil anak laki-laki. Sedangkan Jika Anda hamil anak perempuan, posisi perut akan terlihat lebih tinggi.

4.   Pertumbuhan rambut

Jika mengandung anak laki-laki membuat pertumbuhan rambut menjadi pesat, maka kehamilan anak perempuan akan membuat rambut jadi berkilau.

5. Ukuran payudara

Ukuran payudara yang bertambah dramatis atau yang sebelah kiri nampak lebih besar daripada payudara kanan.

Itulah beberapa tanda-tanda yang mengindikasi saat tengah mengandung anak perempuan, namun untuk memastikannya Anda bisa melakukan USG (Ultrasonografi) di usia kehamilan 20 minggu yang lebih akurat dibanding usia kehamilan 12 minggu. Atau ibu juga bisa melakukan NIPT (Non-Invasive Prenatal Test) yang memeriksa fragmen DNA bayi di aliran darah ibu. Tes ini dinilai akurat dan tidak membahayakan keadaan sang bayi.

Sumber : Merdeka.com, haibunda.com

Pentingnya Mengajarkan Anak Dua Bahasa

Pentingnya Mengajarkan Anak Dua Bahasa

Biasanya seorang anak hanya akan diajarkan bahasa Ibu atau Ayahnya. Namun tahukah? Ternyata mengajarkan sang anak dua bahasa itu penting juga loh. Didukung dalam sebuah tulisan berjudul “Bilingualism and the Development of Executive Function: The Role of Attention” oleh Ellen Bialystok seorang psikolog dan profesor asal Kanada, ia mengatakan bahwa terdapat sejumlah bukti substansial jika lingkungan bahasa yang dialami oleh anak mempengaruhi kualitas sistem kognitif yang mereka kembangkan.

Istilah bingualisme yaitu, berkenaan pada penggunaan dua bahasa atau kode bahasa (Chaer, 2010:84). Untuk dapat menggunakan kedua bahasa tersebut tentunya seseorang harus menguasainya dengan baik.

“Lalu, pada usia berapakah yang tepat seorang anak diajarkan dua bahasa?”

Menurut berbagai penelitian, semakin dini mengajarkan anak bahasa kedua, semakin baik. Semakin dini anak diperkenalkan dengan bahasa baru artinya semakin banyak waktu yang tersedia bagi anak untuk belajar bahasa, dibandingkan dengan anak yang baru belajar bahasa di usianya yang kesekian. Masa di mana anak belum sekolah, terutama di usianya yang ke-3 tahun, merupakan masa di mana dasar-dasar untuk berpikir, bahasa, berperilaku, bersikap, bakat, dan karakteristik lainnya sedang berkembang dengan pesat, seperti kata Ronald Kotulak, penulis buku “Inside the Brain”, yang dilansir dari Early Childhood News.

Sehingga, usia anak yang ketiga tahun merupakan awal yang baik untuk anak untuk belajar bahasa. Pada usia 3 tahun, anak sudah mulai fasih menggunakan bahasa ibu, dan pada usia ini juga anak sudah mulai siap untuk belajar bahasa baru, sehingga anak tidak kesulitan untuk membedakan mana bahasa ibunya dan mana bahasa keduanya.

Manfaat belajar dua bahasa

Menguasai dua bahasa membuat anak berpikiran lebih terbuka dan sensitif pada orang lain. Dengan menjadi bilingual, anak memiliki kesadaran tentang sudut pandang orang lain. Sejak usia dini anak menyadari kalau orang memiliki perspektif yang berbeda. Penelitian lain menyatakan anak bilingual memiliki kemampuan mendengar lebih kuat. Pada lingkungan yang bising, anak bilingual lebih baik dalam mendeteksi suara yang berbeda. Dibanding anak yang menggunakan satu bahasa, anak bilingual memiliki fokus perhatian lebih besar, resisten terhadap distraksi, dan responsif. Tumbuh sebagai anak bilingual juga berarti memahami dua budaya yang berbeda, manfaatnya, anak memiliki jaringan sosial lebih luas dan menyadari adanya perbedaan budaya.

Cara-cara untuk mengajarkan anak dua bahasa:

  • Menggunakan gambar. Anda dapat menunjukkan gambar sambil mengucapkan apa yang ada dalam gambar tersebut dengan menggunakan bahasa kedua.
  • Belajar menggunakan musik dan irama. Lirik yang dikombinasikan dengan musik membuat anak lebih mudah untuk belajar karena anak lebih mudah untuk mengingatnya.
  • Belajar dengan menggunakan gerakan tubuh. Ajak anak untuk menggunakan tubuh dan pikirannya secara bersamaan. Ini dapat membantu anak untuk mengingat.
  • Bermain sambil belajar. Anda dapat melakukan berbagai hal menyenangkan dengan anak Anda sambil mengajaknya berbicara dengan bahasa kedua.
  • Mengajarkan anak dengan santai. Jangan memarahi anak ketika ia tidak dapat mengikuti Anda. Membuat anak stres saat belajar dapat mengurungkan niat anak untuk belajar.

Wah ternyata banyak sekali ya manfaatnya. Lalu bagaimana apakah Anda berminat untuk mengajarkan sang anak mempelajari dua bahasa? Atau sudah menerapkannya di rumah?