fbpx
5 Cara Seru Mengenalkan Indahnya Ramadhan pada Buah Hati

5 Cara Seru Mengenalkan Indahnya Ramadhan pada Buah Hati

Bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk mengajarkan anak kebaikan dan keislaman. Memang, anak yang belum baligh tak diwajibkan untuk menjalani puasa namun, tidak ada salahnya mengenalkan ibadah ini sejak dini.

Mengajarkan puasa sejak dini ini bertujuan agar saat anak beranjak dewasa sudah bisa menjalankan puasa dengan baik. Ya, memperkenalkan anak pada ibadah puasa bukanlah hal yang mudah.

Ini merupakan salah satu tanggung jawab sebagai orangtua untuk mengajarkan anak berpuasa secara bertahap dan perlahan. Melakukan stimulasi pada anak sejak dini penting dilakukan untuk jadi bekal anak tumbuh dengan karakter positif dalam hal agama.

Sebagai guru pertama anak dalam kehidupannya, kita perlu untuk memahami cara mengajarkan puasa pada anak. Pasalnya, anak-anak terutama balita, cenderung belum memaknai puasa secara menyeluruh.

Untuk itu, perlu dilakukan beberapa cara agar suasana Ramadhan bagi anak begitu terasa dan mengajarkannya banyak hal. Simak triknya.

1. Ajak Anak Melakukan Kegiatan yang Berkaitan dengan Ramadhan

Ajak anak untuk melakukan tugas – terutama yang terkait dengan kegiatan Ramadhan. Hal-hal seperti tarawih di malam hari, dan membawa Alquran bersama. Beritahukan pula bahwa besok pagi sebelum subuh harus ikut bangun untuk makan sahur bersama.

Sebagai motivasi untuk mereka, kita dapat memberikan makanan kegemarannya. Beritahukan bahwa makanan itu hanya boleh dimakan sebelum salat subuh. Sehingga ia akan termotivasi untuk ikut makan sahur bersama. 

2. Libatkan Anak Saat Membuat Menu Sahur dan Berbuka

Saat sahur tak jarang anak ikut terbangun di kala ibunya bangun untuk menyiapkan makanan. Biarkan mereka membantu menyiapkan menu sahur dan berbuka.

Yuk Ajak Balita Berpuasa

Bulan Ramadhan akan segera datang beberapa hari lagi. Bagi umat Islam yang sudah baligh (cukup umur), berpuasa di Bulan Ramadhan adalah wajib. Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Apakah sudah harus diajarkan berpuasa?

Sesuatu hal yang baik memang disarankan untuk diajarkan sejak dini, termasuk puasa. Orangtua bisa mulai mengenalkan puasa pada anak sejak usianya masih balita. Puasa bagi anak-anak hukumnya tidak wajib. Dalam hal ini, konteksnya adalah untuk belajar. Jika mereka sudah belajar sejak dini, akan mudah nantinya untuk siap berpuasa. Lalu, kira-kira, kapan anak akan belajar untuk berpuasa?

Nah, sebab setiap anak berbeda, tidak ada ketentuan pasti mengenai kapan usia tepat untuk mengajarkan anak berpuasa. Yang perlu orangtua lakukan adalah mengenalkannya pada nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan saat ibadah puasa, seperti sahur, berbuka, dan shalat tarawih. Kenalkan dengan cara yang menyenangkan agar anak rindu momen-momen khusus di Bulan Ramadhan ini.

Apa yang Harus Orangtua Pahami Saat Mengajarkan Puasa pada Balita?

Mengajarkan sesuatu pada anak-anak harus bersifat menyenangkan, termasuk saat mengajarkan anak berpuasa. Beberapa konsep berpuasa memang susah dimengerti si kecil, seperti mengapa ia harus menahan lapar atau mengapa ia harus shalat tarawih. Pada tiga tahun pertama kehidupannya, anak-anak masih berada pada fase konkret. Mereka baru bisa memahami sesuatu yang berwujud, bisa dilihat, dipegang, dan juga dirasakan. Oleh karena itu, orangtua harus mengajarkannya dengan cara yang mudah dimengerti supaya anak pun paham dan ikut serta melakukannya.

Bagaimana Cara Mengajak Anak Berpuasa?

Menginjak usia tiga tahun, anak-anak sebenarnya sudah boleh dikenalkan dan diajak puasa. Pada usia ini, anak biasanya senang mengamati apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Jika keluarga bersemangat dan bersukacita menyambut puasa, tanpa disuruh pun, anak pun akan ikut-ikutan melakukan puasa, meski ia belum sepenuhnya mengerti. Jadi, jika Anda ingin mengajak anak untuk ikut berpuasa, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menciptakan suasana yang asyik dan menyenangkan. Lalu, apa selanjutnya?

1. Jangan Memaksa

Pada awal-awal bulan puasa, anak-anak mungkin akan sangat bersemangat ikut-ikutan berpuasa. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, mereka mungkin sudah tidak tertarik untuk ikut berpuasa. Saat hal ini terjadi, jangan pernah memaksa si kecil. Anda harus ingat bahwa berpuasa bagi si kecil hanya sebagai pelajaran saja, bukan kewajiban. Jika memang mereka tidak ingin melakukannya, hargai keputusannya. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah untuk memotivasinya untuk kembali berpuasa di tahun berikutnya.

2. Lakukan Secara Bertahap

Jika orang dewasa harus berpuasa dari terbit subuh hingga magrib, anak-anak tidak harus melakukan hal yang sama. Bagaimanapun, di masa tumbuh kembang anak, mereka harus mendapatkan nutrisi untuk mendukung tumbuh kembangnya. Berpuasa bagi si kecil adalah menunda waktu makan untuk satu sampai dua jam.

8 Cara Menjaga Anak Supaya Terhindar dari Paparan Virus Corona Covid-19

8 Cara Menjaga Anak Supaya Terhindar dari Paparan Virus Corona Covid-19

Jakarta – Penyebaran virus corona yang semakin masif di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, harus benar-benar diwaspadai. Berbagai anjuran dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) hingga pemerintah tentang cara menjaga diri supaya terhindar dari paparan virus corona sebisa mungkin diikuti dengan disiplin. 

Salah satu anjuran yang digaungkan di Indonesia adalah di rumah saja. Pemerintah menyarankan masyarakat bekerja dari rumah, belajar di rumah, bahkan beribadah di rumah. 

Jika tak ada keperluan yang mendesak disarankan untuk tidak pergi ke mana-mana. Selain itu, yang paling penting adalah menjaga jarak aman secara fisik supaya terhindar dari paparan COVID-19. 

Ibu adalah Pendidikan Pertama dan Utama untuk Anak

Ibu adalah Pendidikan Pertama dan Utama untuk Anak

Untuk kalian wanita cantik diluar sana, kalian kan akan menjadi calon ibu nih. Ibu muda yang tidak hanya cantik tetapi juga menjadi ibu yang hebat untuk anaknya. Dan kalian pasti ingin tahu kan bagaimana cara mendidik anak agar anak kalian nanti mempunyai pendidikan yang hebat dan pasti tidak hanya pintar di akademik dong, tetapi juga di non akademik. Eits dan yang pasti juga terbuka dan mudah bergaul dengan semua orang. Tetapi yang harus kalian tahu, pendidikan pertama seorang anak dimulai dari pendidikan dirumah, yakni disini ibu mempunyai peran penting untuk sang anak.

Ibu, apa arti ibu buat kalian? Pentingkah ibu di hidup kalian? Sadarkah kalian jika ibu kalian selama ini udah berkorban banyak untuk kalian? Ibu, ibu adalah seorang wanita yang telah melahirkan anak, merawat, dan membesarkan anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Menjadi ibu, tidak hanya melahirkan, merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tetapi ibu adalah agen utama untuk pendidikan sang anak.

Cara Orang Tua Milenial Mengasuh Anak

Cara Orang Tua Milenial Mengasuh Anak

Bagaimana sih cara orang tua milenial mengasuh anak, apalagi di zaman yang serba cepat seperti ini? Tapi, sebelum ke sana, kita tentu saja harus memahami, ada berbagai alasan mengapa orang memutuskan untuk menikah. Ada yang menikah karena jatuh cinta, dijodohkan orang tua, dikejar usia, kesepian dan berbagai alasan lainnya. Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zariyat: 49

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“… dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”.

Ajaran Islam jelas menetapkan pernikahan adalah sebuah bentuk ibadah dan dalam pernikahan terdapat misi mulia manusia untuk melahirkan keturunan, regenerasi dan melanjutkan peradaban sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Syura:11

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Allah) pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan cara itu….Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Binatang ternak berpasangan untuk berkembang biak, manusiapun demikian. Tidak lain karena manusia diberi tugas oleh-Nya untuk membangun peradaban, yaitu manusia diberi tugas untuk menjadi khalifah di dunia ini (Quraish Shihab, 2007).

Dalam percakapan-percakapan dengan berbagai pasangan, jarang saya mendengar alasan utama menikah adalah untuk memiliki anak. Namun secara sadar, pasangan-pasangan ini memandang bahwa pernikahan akan menjadi satu paket dengan kelahiran anak. Bukankah tujuan pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan? Masalahnya pemahaman untuk melanjutkan keturunan hanya berhenti pada ide untuk memiliki anak.

Sangat sedikit pasangan yang akan menikah berpikir tentang bagaimana membesarkan dan mendidik anak. Sebagian besar orang berpikir melahirkan anak, membesarkan dan mendidiknya adalah proses alamiah. Memang benar bahwa proses mengandung dan melahirkan adalah proses alamiah, namun tidak demikian dengan proses membesarkan, merawat dan mendidiknya.

Sebagian besar pasangan berpikir bahwa mengasuh anak adalah kewajiban utama ibu saja sehingga menyepelekan peran ayah untuk mengasuh dan mendidik anak, padahal fungsi dan peran seimbang ibu dan ayah sangat penting untuk pembentukan karakter anak.

Orang tua perlu memiliki pemahaman dan keterampilan khusus tentang hal-hal yang berkaitan dengan pola asuh dan mendidik anak terlebih dalam era millenial saat ini. Tantangannya tentu berbeda dengan old generation dimana teknologi internet dan digital belum lahir. Akibatnya orang tua generasi pertama peradaban millenial ini tentu saja belajar dari trial and error untuk menyelaraskan pola asuhnya dengan perubahan zaman. Sungguh bukan suatu pekerjaan mudah.

Ada banyak petuah-petuah di masa lampau yang sudah tidak lagi relevan bagi Generasi Jaman Now. Misalnya jika dulu kita dinasihati orang tua kita untuk harus sudah berada di rumah saat waktu Maghrib tiba, sekarang ini Generasi Jaman Now, malah bisa tidak keluar rumah atau keluar kamar kamar sehari semalam namun berkutat terus dengan gadgetnya sehingga melupakan kewajiban sosialnya. Cara Orang Tua Milenial Mengasuh

Kalau orang tua jaman dulu sering marah karena anaknya pulang dengan badan penuh lumpur karena main di rawa atau sawah dengan teman-temannya, hari ini banyak orang tua yang mengantarkan anaknya ke tempat terapi karena anaknya tidak mampu untuk bersosialisasi.

Peradaban berubah, tantangan pola asuh juga berubah.

Pertanyaannya, apakah para orang tua yang hidup di Jaman Millenial ini dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan pola asuh sesuai dengan tantangan jaman? Saya rasa jawabannya, belum.

Bukan berarti tidak ada informasi yang dapat diakses, sebaliknya orang tua Jaman Now dibanjiri informasi yang pada akhirnya seringkali membingungkan dan malah salah jalan. Karena panduan orang secara umum sudah bukan lagi literatur, kitab suci ataupun sumber-sumber ilmiah lainnya melainkan Mbah Google.

Ibu Bahagia, Anak Betah di Rumah

Ibu Bahagia, Anak Betah di Rumah

Begitu masuk sekolah dan memiliki banyak teman, rumah tak lagi menjadi satu-satunya tempat yang nyaman bagi anak. Anak mulai punya banyak kegiatan di luar rumah yang menurutnya menarik. Tak jarang, anak jadi lebih suka berada di luar daripada di lingkungan rumahnya.

Apakah ini salah? Beraktivitas di luar rumah kan, banyak manfaatnya? Betul Moms, namun rumah seharusnya tetap menjadi tempat yang paling menyenangkan dan nyaman buat si kecil maupun anggota keluarga lainnya.Demikian menurut Ustadz Bendri Jaisyurrahman, Konselor Anak, Remaja dan Pernikahan serta aktivis gerakan Sahabat Ayah. Di sinilah, ibu dapat berperan besar.“Rumah adalah sebaik-baiknya tempat. Maka buatlah suami dan anak-anak nyaman agar selalu ingin cepat pulang. Ibu seharusnya jadi magnet agar anak ingin pulang. Namun ini tak bisa dilakukan jika ibu tidak bahagia, stres, atau depresi,” papar Ustadz Bendri, saat ditemui kumparanMOM di Masjid Al Muhajirin, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Selasa (8/1) dalam kajian yang digelar komunitas Gazala Albirru. Ya, Moms, kebahagiaan ibu penting untuk menjamin kebahagiaan anggota keluarga lainnya. Sebab ibu punya peran vital sebagai benteng umat. Ibu yang bahagia akan memancarkan energi positif di rumah sehingga membuat anak betah.

Ada 4 Gaya Orang Tua Mendidik Anak, Anda Kategori Apa?

Ada 4 Gaya Orang Tua Mendidik Anak, Anda Kategori Apa?

TEMPO.COJakarta – Orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh dengan baik dan mencapai kesuksesan. Namun, hal ini juga bergantung pada gaya parenting yang diterapkan oleh orang tua dalam membesarkan anak.

Gaya parenting merupakan cara mengasuh anak yang dilakukan oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Gaya parenting sangatlah penting dalam keluarga karena dapat berpengaruh pada kepribadian anak.

Gaya pengasuhan setiap orang tua mungkin berbeda-beda, namun terdapat 4 parenting style yang umumnya diterapkan oleh orang tua. Berikut 4 parenting style yang perlu Anda ketahui:

1. Berwibawa (authoritative)

Dalam gaya parenting ini, orang tua mengasuh, mendukung, dan responsif terhadap anak namun sekaligus memberi batasan yang tegas. Di satu sisi, orang tua memberikan kasih sayang, namun di sisi lain mendorong anak untuk mandiri.

Orang tua mau mendengarkan sudut pandang anak meski tidak semua pendapat anak dapat diterima. Dengan gaya parenting ini, orang tua berusaha mengendalikan perilaku anak dengan menjalankan aturan, berdiskusi, dan menggunakan nalar.

Anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan ini cenderung ramah, bersemangat, ceria, dapat mengendalikan diri, memiliki rasa ingin tahu, kooperatif, tampak bahagia, lebih mandiri, dan mencapai kesuksesan akademik yang tinggi.

Selain itu, anak juga biasanya dapat berinteraksi dengan baik, memiliki keterampilan sosial yang bagus, memiliki kesehatan mental yang baik (lebih sedikit mengalami depresi, kecemasan, upaya bunuh diri, mengonsumsi alkohol, maupun penggunaan narkoba), dan tidak menunjukkan kekerasan.

2. Otoriter (authoritarian)

Meski namanya serupa, namun gaya parenting authoritarian dan authoritative memiliki perbedaan penting dalam pengasuhan anak.

5 Prinsip Parenting Membentuk Karakter Positif pada Anak

5 Prinsip Parenting Membentuk Karakter Positif pada Anak

Membesarkan dan mendidik anak bukanlah perkara mudah. Kekeliruan orang tua dalam menerapkan pola asuh dapat memengaruhi perilaku anak di kemudian hari. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mempelajari prinsip parenting yang benar agar bisa membentuk karakter positif pada anak.

Anak bagaikan kertas putih kosong yang bisa dihiasi dengan coretan atau tulisan. Tulisan tersebut bisa membuat kertas menjadi indah atau sebaliknya. Nah, semua itu tergantung pada pola asuh yang orang tua terapkan kepada anak.

Prinsip Pola Asuh yang Perlu Diterapkan Orang Tua

Pola asuh yang baik dapat membantu menumbuhkan rasa kepedulian, kejujuran, kemandirian, dan keceriaan pada diri anak.

Cara pengasuhan yang baik juga dapat mendukung kecerdasan anak dan melindungi anak dari rasa cemas, depresipergaulan bebas, serta penyalahgunaan alkohol dan narkoba.

Prinsip utama pola asuh yang baik adalah membesarkan dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, sekaligus mendukung, membimbing, dan menjadi teman yang menyenangkan.

Berikut ini adalah 5 prinsip pola asuh atau parenting yang bisa Anda terapkan:

1. Menjadi panutan yang baik bagi anak

Anak cenderung akan meniru apa yang orang tuanya lakukan. Oleh karena itu, menjadi panutan yang baik bagi anak adalah salah satu cara mendidik anak yang penting dilakukan oleh para orang tua.

Ketika Anda ingin menanamkan karakter positif pada anak, berilah contoh pada mereka, misalnya dengan selalu berkata jujur, berperilaku baik dan santun terhadap orang lain, serta membantu orang lain tanpa mengharap imbalan.

Selain itu, tunjukkan kepada anak bagaimana cara hidup sehat, misalnya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari, menyikat gigi setelah makan dan menjelang tidur, serta membuang sampah pada tempatnya.

2. Jangan terlalu memanjakan anak

Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak sadar bahwa selama ini Anda selalu menuruti kemauan si buah hati. Nah, ini saatnya untuk menghentikan kebiasaan tersebut sekaligus memberi pembelajaran pada anak agar ia tidak terlalu manja.

3 KONSEP UTAMA DALAM PARENTING NABAWIYAH MENURUT USTADZ BUDI ASHARI.LC

Parenting Nabawiyah

Ustadz Budi Ashari, Lc adalah seorang yang berkonstrasi dalam dunia sejarah Islam, sejalan dengan pendidikannya saat kuliah di Al Jami’ah Al Islamiyyah di Madinah Nabawiyyah yaitu Fakultas hadis dan Dirosah. Ustadz Budi Ashari juga membidani lahirnya sebuah lembaga kajian yang diberi nama Cahaya Peradaban Islam.

Hasil dari eksplorasi kajian beliau terkait sejarah Islam diaplikasikan dengan konsentrasi pendidikan dan parenting. Beliau mendirikan beberapa lembaga pendidikan berbasis sejarah Islam seperti Sekolah Khuttab Al Fatih, Parenting Nabawiyah dan juga Akademi Sirah Nabawiyah.

Dalam tulisan kali ini kami akan membagikan 3 konsep utama dalam parenting Nabawiyah yang digagas oleh Ustadz Budi Ashari. Parenting Nabawiyah adalah konsep pendidikan keluarga berbasis Nubuwah (kenabian).Sumber utama dari Parenting nabawiyah adalah Al-qur,an hadits serta sejarah-sejarah bagaimana ulama-ulama terdahulu mendidik anak sehingga melahirkan generasi yang luar biasa. Tak hanya bersinar di dunia namun juga gemilang hingga akhiratnya.

Berikut adalah 3 konsep utama dalam parenting Nabawiyah yang diusung oleh Ustadz Budi Ashari.

7 Prinsip Dasar Alquran dalam Mendidik Anak



Anak adalah permata hati orang tua, yang juga merupakan cerminan dari orang tua. Didikan orang tua juga mempengaruhi anak dalam berperilaku, baik di lingkungan keluarga maupun di luar lingkungan keluarga.

Berbicara mengenai pola didik anak, banyak sekali metode yang mengajarkan pola didik anak. Bagi umat Islam, tentu yang terbaik dalam mendidik anak adalah berdasarkan Al Qur’an.

NILAH PRINSIP YANG HARUS DITERAPKAN DALAM MENDIDIK ANAK BERDASARKAN AL QUR’AN

1. Surat Al Qashash ayat 68 dan Surat Asy Syuura ayat 49-50

Anak adalah takdir Allah Ta’ala, bukan pilihan orang tua juga bukan anak yang memilih orang tua.

2. Surat Al Anfal ayat 27-28

Karena apa yang Allah Ta’ala takdirkan, maka itu adalah amanah yang harus ditunaikan.