syarat hewan qurban untuk aqiqah

Syarat Hewan Qurban Untuk Aqiqah

Persyaratan mengenai hewan qurban untuk aqiqah kerap dicari saat orang tua hendak melaksanakan ibadah tersebut bagi buah hati mereka. Dari Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Aasallam menjelaskan “Janganlah kalian menyembelih kecuali ‘musinnah’, kecuali jika hal tersebut sulit bagi kalian, makas sembelihlah ‘jadza’ah’ dari domba.” (HR. Muslim No. 1963)

Sementara kriteria umur minimal hewan qurban menurut para ulama ialah 5 tahun bagi unta, 2 tahun bagi sapi, 1 tahun bagi kambing dan 6 bulan bagi domba. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa syarat umur minimal bagi kambing aqiqah adalah 1 tahun, sedangkan jika menggunakan domba ialah 6 bulan. Jadi perlu diperhatikan syarat ini terkait dengan pemilihan hewan yang akan digunakan.

Tidak Cacat

Selain persyaratan tentang umur, kesehatan hewan qurban aqiqah juga harus diperhatikan. Kambing atau domba aqiqah harus sehat dan bebas dari cacat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa cacat yang dapat membuat hewan qurban dan hewan aqiqah menjadi tidak sah dari Al Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhuma :

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah berdiri di antara kami dan berkata ada 4 cacat yang tidak dibolehkan pada hewan qurban yaitu buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, sakit dan tampak jelas sakitnya, pincang dan tampak jelas pincangnya dan sangat kurus hingga tidak punya sumsum tulang.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh empat penulis kitab sunan dan Imam Ahmad serta dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

Baca Juga Artikel : Tips Aqiqah Hemat dan Efisien

Jenis Kelamin Hewan Qurban

Baik jantan atau betina, keduanya dapat digunakan sebagai hewan qurban aqiqah. Namun, lebih dianjurkan untuk menggunakan kambing atau domba jantan karena ukurannya yang lebih gemuk merupakan syarat hewan qurban aqiqah.

Jumlah dan Jenisnya

Hal ini masuk ke dalam sunnah hewan aqiqah dan salah satu syarat hewan qurban untuk aqiqah. Secara umum aqiqah bagi seorang anak laki-laki ialah 2 ekor domba atau kambing. Sementara untuk anak perempuan ialah satu ekor domba atau kambing. Bagi anak laki-laki hendaknya dua ekor domba atau kambing sebaiknya diusahakan sama atau sekufu (tidak beda jauh ukurannya).

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

Hukum Makan Daging Aqiqah Bagi Keluarga yang Melaksanakan

Hukum Memakan Daging Aqiqah Bagi Keluarga yang Melaksanakannya

Pertanyaan mengenai hukum memakan daging aqiqah bagi keluarga yang melaksanakannya kerap muncul. Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa keluarga diperbolehkan mengonsumsi daging aqiqah yang disembelih, di antaranya :

Pendapat as-Syafi’i

Ibnu Qudamah pernah mengatakan bahwa aturan daging aqiqah ialah boleh dimakan, dihadiahkan atau disedekahkan sama halnya dengan aturan daging qurban berdasarkan pendapat as-Syafii.

Beliau juga menyimpulkan bahwa aqiqah diqiyaskan dengan berkurban dan ibadah ini tidaklah wajib. Karena memiliki kesamaan dari sifat dan sunah, ukuran hingga syaratnya maka penyalurannya pun serupa sebagaimana pendapat as-Syafii.

Baca Juga Artikel : Sunnah – Sunnah Dalam Ibadah Aqiqah

Serupa dengan Aturan Ibadah Qurban

Aturan dalam ibadah aqiqah serupa dengan ibadah qurban yang memperbolehkan keluarga untuk mengonsumsi sebagian daging yang diqurbankan. Hal ini didasari oleh Qs. Al-Haj ayat 28 yang artinya :

“Makanlah dari sebagian hewan qurban itu dan berikan kepada orang yang sangat membutuhkan” (Qs. Al-Haj: 28).

Pendapat Imam Malik

Beliau pernah mengatakan “saya suka jika shohibul qurban memakan daging qurbannya karena Allah berfirman “Makanlah bagian dari hewan qurban”, kemudian Ibnu Wahb juga pernah mengatakan pernah menanyakan hal ini kepada Al-Laits dan dijawab dengan jawaban yang sama. Keterangan ini terdapat di dalam Tafsir Ibn Katsir, 5/416, hukum makan daging aqiqah.

Keterangan dari A’isyah radhiallahu ‘anha

Aqiqah yang sesuai dengan sunah ialah 2 ekor kambing bagi anak lelaki dan seekor kambing bagi anak perempuan. Dimasak utuh dengan tulangnya, tidak pecah dan dimakan sendiri, diberikan kepada orang lain serta disedekahkan, hukum makan daging aqiqah

Menurut Ibnu Utsaimin, maksud dari tulang yang tidak pecah ialah filosofi membangun sikap optimis terhadap keselamatan anak dan tidak mengalami kecelakaan atau masalah atas badannya. Meski begitu, beliau juga menjelaskan bahwa tidak ada dalil yang terkait dengan pernyataan tersebut.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keluarga yang melaksanakan ibadah aqiqah diperbolehkan mengonsumsi sebagian dagingnya. Selain itu, dianjurkan untuk membagikannya kepada tetangga atau orang-orang sekitar serta mereka yang membutuhkannya sebagai wujud rasa syukur. Dengan ini maka jelaslah aturan pembagian daging aqiqah tersebut.

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

Sunnah sunnah dalam ibadah aqiqah

Sunnah-sunnah dalam Ibadah Aqiqah

Sunnah merupakan sesuatu yang apabila dilakukan akan mendapat pahala, namun jika meninggalkannya tidak akan mendatangkan dosa. Aqiqah merupakan salah satu ibadah yang dihukumi sunnah muakkad atau tidak wajib dilakukan, namun dianjurkan. Di dalam ibadah aqiqah juga terdapat sunnah-sunnah sebagai berikut ini :

Memasak Daging Sembelihan Aqiqah

Ketika selesai melakukan penyembelihan hewan aqiqah, hendaknya daging tersebut dimasak hingga matang. Pernyataan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang tercantum di dalam kitab Tuhfatuh Maudud halaman 43 hingga 44 memaparkan bahwa memasak daging aqiqah merupakan sunnah. Jika daging tersebut sudah dimasak, maka orang-orang yang berhak menerimanya tidak perlu repot mengolah daging tersebut.

Hal tersebut juga menambah nilai kebaikan serta rasa syukur. Penerimanya juga akan merasa gembira ketika menyantapnya. Oleh karena itu, umumnya makanan dalam acara syukuran dihidangkan dalam keadaan sudah dimasak. Selain itu, perhatikanlah kondisi kambing yang hendak digunakan untuk aqiqah. Pastikan sudah sesuai dengan syari’at Islam.

Baca Juga Artikel : Inilah Hikmah Melaksanak Ibadah Aqiqah

Jumlah Kambing

Rasulullah SAW pernah menerangkan bahwasanya jumlah kambing yang disembelih bagi anak laki-laki ialah sebanyak 2 ekor, sedangkan untuk aqiqah bagi anak perempuan cukup 1 ekor saja. Hal itu termasuk sunnah dalam aqiqah.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata bahwa beberapa hadits Ummu Kurz menjadi argumen yang mendasari pendapat ulama dalam membedakan aqiqah bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Sementara itu, Imam Malik menyatakan bahwa aqiqah bagi keduanya ialah sama berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain dengan masing-masing satu ekor kambing.

Terdapat pula riwayat lain yang dikeluarkan oleh Abusy Syaikh bahwa aqiqah bagi anak laki-laki ialah dua ekor kambing. Adapun riwayat-riwayat tersebut tidak bermaksud menafikkan hadits-hadits mutawatir yang menyatakan bahwa jumlah hewan aqiqah bagi anak laki-laki adalah 2 ekor kambing, namun riwayat tersebut menerangkan bahwa mengaqiqahi seorang anak lelaki diperbolehkan dengan jumlah hewan kurang dari 2 ekor. Sehingga ketentuan tersebut merupakan sunnah saja. Hal ini terdapat dalam kitab Fathul Bari sunnah dalam ibadah aqiqah.

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

Hikmah Melaksanakan Ibadah Aqiqah

Inilah Hikmah Melaksanakan Ibadah Aqiqah

Secara bahasa aqiqah artinya memutus atau memotong, sedangkan menurut istilah aqiqah merupakan penyembelihan hewan kambing untuk bayi yang baru lahir. Para ulama menyatakan bahwa hukum melakukan aqiqah adalah sunnah muakad atau sunnah yang jika dikerjakan akan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak akan mendapat dosa. Namun, ibadah ini dianjurkan dalam syari’at Islam.

Sejalan dengan pemaparan tersebut, Ustad Ihsan Ibnu Hasan juga menyampaikan bahwa aqiqah merupakan suatu tanda syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan anugerah berupa seorang anak. Aqiqah juga menjadi salah satu sarana memanjatkan permohonan kepada Allah SWT agar senantiasa menjaga dan melindungi bayi tersebut, hikmah melaksanakan ibadah aqiqah.

Selain menjadi washilah untuk memanjatkan permohonan, ibadah aqiqah juga menjadi tebusan bagi anak untuk mendatangkan syafaat pada kedua orang tuanya. Hal ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad “Dia tergadai dari memberikan syafaat bagi kedua orangtuanya (dengan aqiqah)”.

Baca Juga Artikel : Aturan Membagi Daging Aqiqah Menurut Syari’at Islam

Tak hanya itu, Rasulullah bahkan pernah bersabda “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (binatang) pda hari ke tujuh kelahirannya dan dicukur rambut kepalanya, kemudian diberi nama pada hari itu.”, hikmah melaksanakan ibadah aqiqah

Sementara hadits lain menyatakan “Dari Salman bin Amr ad-dhabi: Sesungguhnya anak itu di aqiqahi. Maka tumpahkanlah darah baginya dan jauhkanlah penyakit dari padanya (dengan mencukurnya),” (HR. Bukhari).

Aqiqah juga menjadi salah satu sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah senantiasa melakukan ibadah aqiqah ketika dikaruniai seorang anak. Beberapa ulama sepakat bahwa ibadah sunnah ini dianjurkan dilaksanakan pada hari ketujuh sejak kelahiran bayi, hikmah melaksanakan ibadah aqiqah

Pendapat tersebut didasarkan pada hadits dari Samuroh bin Jundub. Meski begitu, sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa pelaksanaan aqiqah dapat dilakukan pada hari keempat belas atau hari ke dua puluh satu. Kesepakatan ini didasarkan pada hadits dari A’isyah r.a. dalam kitab Al-Mustadrok Nomor 7595 yang sudah dishahihkan oleh Imam Hakim dan Imam Adzahabi.

Demikianlah hikmah melakukan ibadah sunnah aqiqah terhadap bayi yang baru lahir. Meski dihukumi sunnah, pelaksanakan aqiqah di Indonesia sudah melekat di kalangan masyarakat muslim.

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

aturan pembagian daging aqiqah

Aturan Membagi Daging Aqiqah Menurut Syari’at Islam

Urusan pembagian daging aqiqah memiliki tata cara atau hukum yang harus diketahui oleh seorang muslim. Aisyah RA pernah menyatakan perihal gambaran pembagian daging aqiqah dalah sebuah hadits yang telah diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi.

“Sunnahnya aqiqah adalah dua ekor kambing bagi anak laki-laki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan. Dagingnya dimasak tanpa mematahkan tulang. Kemudian dimakan (oleh keluarganya) dan juga disedekahkan pada hari ketujuh.”

Berdasarkan hadits tersebut daging aqiqah dapat dimakan oleh keluarga yang memiliki hajat namun sebagiannya disedekahkan pada hari ketujuh. Sama halnya dengan hadits di atas, di dalam kitab Minhajul Muslim milik Syaikh Jabir Al Jaza’iri juga terdapat keterangan bahwa daging aqiqah bisa dinikmati oleh ahlul bait, kemudian disedekahkan atau dihadiahkan.

Adapun terkait cara pembagiannya, terdapat sedikit perbedaan antar ulama. Sebagian menyatakan bahwa tatacara pembagian daging aqiqah hampir sama dengan tatacara pembagian daging qurban dimana keluarga boleh memakan daging tersebut dan juga menyedekahkan kepada fakir miskin dan tetangga.

Para ulama juga bersepakat bahwa waktu pembagian daging aqiqah tidak harus bertepatan dengan waktu penyembelihan.

Baca Juga Artikel : Bolehkah Berqurban Jika Belum Pernah Diaqiqah?

Sementara untuk Aturan dan tatacara membagi daging aqiqah, para ulama menjelaskan bahwa syariat memberikan kelonggaran. Dalam arti tidak harus bertepatan dengan waktu penyembelihan. Sebagaimana qurban, penyembelihannya dilakukan pada waktu yang telah ditetapkan, yaitu idul adha dan hari tasyriq, sementara distribusi dagingnya boleh menyusul.

As-Syafi’i menjelaskan bahwa tatacara membagi daging aqiqah sama halnya dengan hukum makan, dihadiahkan dan disedekahkan yang artinya serupa dengan aturan pembagian daging qurban. Bahkan Ibnu Sirin mengatakan “Tangani dagingnya sesuai dengan apa yang Anda inginkan.” Aturan pembagian daging aqiqah

Beliau juga menambahkan bahwa yang paling mendekati adalah aqiqah yang diqiyaskan dengan qurban karena aqiqah bukanlah ibadah wajib. Karena aqiqah sama seperti qurban berdasarkan kriteria hewannya baik usia, batasan hingga syarat-syaratnya, maka tata cara pembagiannya pun sama seperti hewan qurban. (al-Mughni, 9/463)

Berdasarkan pemaparan di atas, maka jelaslah bahwa pembagian daging aqiqah tidak berbeda dengan pembagian daging qurban. Adapun tujuan utama dari pembagian daging aqiqah adalah sebagai bentuk rasa syukur.

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

rangkaian doa dalam aqiqah

Rangkaian Doa-doa Saat Melaksanakan Aqiqah

ada beberapa rangkaian saat melaksanakan , salah satunya dengan doa kami telaha merangkum rangkaian doa – doa dalam melaksanakan aqiqah.

Do’a yang Dibaca Saat Memotong Hewan Aqiqah

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ

Artinya : “Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (Lafalkan Nama Bayi).”

Do’a yang Dibaca Saat Mencukur Rambut Bayi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللّٰهُمَّ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ، اَللّٰهُمَّ سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Artinya : “Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasulullah SAW, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Baca Juga Artikel : Hakikat Niat dalam Melaksanakan Aqiqah

Do’a yang Dibaca Saat Meniup Ubun-ubun Bayi

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّ يَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk.”

Do’a Walimatul Aqiqah

اَللّٰهُمَّ احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَاعَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا وَ إِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَاتَجْعَلْنَا وَ إِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَالظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ

Artinya : “Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindunganmu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada diantara kami dan makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

Hakikat Niat dalam aqiqah

Hakikat Niat dalam Melaksanakan Aqiqah

Di dalam syariat Islam, melaksanakan aqiqah merupakan sebuah ibadah. Tentunya untuk mengikuti ajaran tersebut memerlukan niat. Lalu bagaimanakah hakikat niat dalam melaksanakan aqiqah? Apakah harus menggunakan bahasa Arab? Atau diperbolehkan menggunakan bahasa yang dikuasai?

Untuk sebuah niat, dalam hal ini niat untuk melaksanakan aqiqah perkara bahasa niat tidak dipermasalahkan. Tidak ada larangan untuk menggunakan bahasa selain bahasa Arab. Namun, tetap memiliki patokan terkait adab-adab meniatkan suatu ibadah yang tidak dapat diucap sembarangan melainkan harus dilakukan dengan hati yang sungguh-sungguh.

Meski begitu, terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa melafalkan niat dalam bahasa Arab lebih diutamakan. Di sisi lain, banyak pula yang kurang memahami makna dari apa yang dibaca, dalam hal ini niat untuk aqiqah karena bahasanya. Aqiqah merupakan ibadah yang dihukumi sunnah muakkad yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh mulai dari niat hingga pelaksanaannya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam agama Islam, niat merupakan salah satu rukun ibadah yang penting seperti apa yang pernah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari bahwasanya segala amal ibadah bergantung pada niatnya dan kita bisa mendapatkan sesuatu berdasarkan apa yang diniatkan.

Baca Juga Artikel : Hukum Aqiqah Sesuai Syariat Islam

Dari pernyataan tersebut, maka jelaslah bahwa hakikat niat memiliki keutamaan dalam sebuah ibadah, termasuk ibadah aqiqah. Saat hendak menyembelih binatang untuk ibadah aqiqah disunnahkan untuk membaca

بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَن

Bismillah Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan

Artinya: “Dengan Nama Allah, Allah adalah Yang Terbesar, Ya Allah ini dariMu dan untukMu. Ini adalah aqiqoh (sebutkan nama bayi yang diaqiqahi).”

Pada bagian akhir niat dianjurkan untuk menyebutkan bagi siapa aqiqah tersebut dilakukan. Namun, berdasarkan pernyataan Ibnul Mundzir jika seseorang hanya mengucap bismillah tanpa melafalkan niat saat hendak menyembelih binatang aqiqah, hal itu sudah mencukupi niat ibadah aqiqah (Tuhaftul Mauduud fii Ahkamil Maulud (1/93)).

Maka dapat dikatakan bahwa mengucap basmalah dan niat tanpa mengikutsertakan bagi siapa aqiqah tersebut diberikan sudah memenuhi rukun niat. Itulah sedikit ulasan mengenai hakikat niat dalam ibadah aqiqah.

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

Hukum Aqiqah Sesuai Syari’at Islam

Hukum Aqiqah Sesuai Syari’at Islam

Bagaimana sih hukum aqiqah sesuai syariat islam, ini akan terus menjadi pertanyaan yang akan keluar bagi yanda dan bunda yang akan mendapatkan anugerah malaikat kecil yang di berikan allah untuk kita

Mendapatkan buah hati merupakan salah satu impian bagi pasangan yang telah menikah. Sebagian besar pasangan, terutama yang beragama muslim kerap mengungkapkan rasa suka cita melalui acara syukuran dengan mengundang keluarga dan tetangga sekitar. Acara ini biasanya diselenggarakan pada hari ketujuh atau lebih dikenal dengan istilah Aqiqah.

Menurut kitab karangan Syekh Syarqowi berjudul ‘Hasyiyatus Syarqowi ala Thullab bi Syarhit Tahrir, pelaksanaan Aqiqah dihukumi sunnah muakkad atau sunnah yang dianjurkan sebagai salah satu bentuk ibadah. Namun, jika acara Aqiqah telah dinazarkan sebelumnya maka hukumnya menjadi wajib.

Jika merujuk pada bahasa Arab, Aqiqah berarti memutus atau melubangi. Sedangkan secara istilah yang lebih banyak dikenal, Aqiqah merupakan sebuah aktivitas ibadah yang dilakukan dengan cara menyembelih hewan berupa kambing sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya seorang anak.

Hadist riwatat Bukhari bahkan menyatakan : Dari Salman bin “Amir Adh Dhabbi, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Pada (setiap) anak lelaki (yang lahir) harus diaqiqahi, maka sembelihlah (Aqiqah) untuknya dan hilangkan gangguan darinya”y