Hakikat Niat dalam aqiqah

Hakikat Niat dalam Melaksanakan Aqiqah

Di dalam syariat Islam, melaksanakan aqiqah merupakan sebuah ibadah. Tentunya untuk mengikuti ajaran tersebut memerlukan niat. Lalu bagaimanakah hakikat niat dalam melaksanakan aqiqah? Apakah harus menggunakan bahasa Arab? Atau diperbolehkan menggunakan bahasa yang dikuasai?

Untuk sebuah niat, dalam hal ini niat untuk melaksanakan aqiqah perkara bahasa niat tidak dipermasalahkan. Tidak ada larangan untuk menggunakan bahasa selain bahasa Arab. Namun, tetap memiliki patokan terkait adab-adab meniatkan suatu ibadah yang tidak dapat diucap sembarangan melainkan harus dilakukan dengan hati yang sungguh-sungguh.

Meski begitu, terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa melafalkan niat dalam bahasa Arab lebih diutamakan. Di sisi lain, banyak pula yang kurang memahami makna dari apa yang dibaca, dalam hal ini niat untuk aqiqah karena bahasanya. Aqiqah merupakan ibadah yang dihukumi sunnah muakkad yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh mulai dari niat hingga pelaksanaannya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam agama Islam, niat merupakan salah satu rukun ibadah yang penting seperti apa yang pernah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari bahwasanya segala amal ibadah bergantung pada niatnya dan kita bisa mendapatkan sesuatu berdasarkan apa yang diniatkan.

Baca Juga Artikel : Hukum Aqiqah Sesuai Syariat Islam

Dari pernyataan tersebut, maka jelaslah bahwa hakikat niat memiliki keutamaan dalam sebuah ibadah, termasuk ibadah aqiqah. Saat hendak menyembelih binatang untuk ibadah aqiqah disunnahkan untuk membaca

بِسْمِ اللهِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ ، هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلاَن

Bismillah Allahu Akbar Allaahumma minka wa laka, haadzihi ‘aqiiqotu fulaan

Artinya: “Dengan Nama Allah, Allah adalah Yang Terbesar, Ya Allah ini dariMu dan untukMu. Ini adalah aqiqoh (sebutkan nama bayi yang diaqiqahi).”

Pada bagian akhir niat dianjurkan untuk menyebutkan bagi siapa aqiqah tersebut dilakukan. Namun, berdasarkan pernyataan Ibnul Mundzir jika seseorang hanya mengucap bismillah tanpa melafalkan niat saat hendak menyembelih binatang aqiqah, hal itu sudah mencukupi niat ibadah aqiqah (Tuhaftul Mauduud fii Ahkamil Maulud (1/93)).

Maka dapat dikatakan bahwa mengucap basmalah dan niat tanpa mengikutsertakan bagi siapa aqiqah tersebut diberikan sudah memenuhi rukun niat. Itulah sedikit ulasan mengenai hakikat niat dalam ibadah aqiqah.

Hubungi Unit Usaha Kami Yang Lain

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *