Mengajarkan Anak Dua Bahasa

Pentingnya Mengajarkan Anak Dua Bahasa

Biasanya seorang anak hanya akan diajarkan bahasa Ibu atau Ayahnya. Namun tahukah? Ternyata mengajarkan sang anak dua bahasa itu penting juga loh. Didukung dalam sebuah tulisan berjudul “Bilingualism and the Development of Executive Function: The Role of Attention” oleh Ellen Bialystok seorang psikolog dan profesor asal Kanada, ia mengatakan bahwa terdapat sejumlah bukti substansial jika lingkungan bahasa yang dialami oleh anak mempengaruhi kualitas sistem kognitif yang mereka kembangkan.

Istilah bingualisme yaitu, berkenaan pada penggunaan dua bahasa atau kode bahasa (Chaer, 2010:84). Untuk dapat menggunakan kedua bahasa tersebut tentunya seseorang harus menguasainya dengan baik.

“Lalu, pada usia berapakah yang tepat seorang anak diajarkan dua bahasa?”

Menurut berbagai penelitian, semakin dini mengajarkan anak bahasa kedua, semakin baik. Semakin dini anak diperkenalkan dengan bahasa baru artinya semakin banyak waktu yang tersedia bagi anak untuk belajar bahasa, dibandingkan dengan anak yang baru belajar bahasa di usianya yang kesekian. Masa di mana anak belum sekolah, terutama di usianya yang ke-3 tahun, merupakan masa di mana dasar-dasar untuk berpikir, bahasa, berperilaku, bersikap, bakat, dan karakteristik lainnya sedang berkembang dengan pesat, seperti kata Ronald Kotulak, penulis buku “Inside the Brain”, yang dilansir dari Early Childhood News.

Sehingga, usia anak yang ketiga tahun merupakan awal yang baik untuk anak untuk belajar bahasa. Pada usia 3 tahun, anak sudah mulai fasih menggunakan bahasa ibu, dan pada usia ini juga anak sudah mulai siap untuk belajar bahasa baru, sehingga anak tidak kesulitan untuk membedakan mana bahasa ibunya dan mana bahasa keduanya.

Manfaat belajar dua bahasa

Menguasai dua bahasa membuat anak berpikiran lebih terbuka dan sensitif pada orang lain. Dengan menjadi bilingual, anak memiliki kesadaran tentang sudut pandang orang lain. Sejak usia dini anak menyadari kalau orang memiliki perspektif yang berbeda. Penelitian lain menyatakan anak bilingual memiliki kemampuan mendengar lebih kuat. Pada lingkungan yang bising, anak bilingual lebih baik dalam mendeteksi suara yang berbeda. Dibanding anak yang menggunakan satu bahasa, anak bilingual memiliki fokus perhatian lebih besar, resisten terhadap distraksi, dan responsif. Tumbuh sebagai anak bilingual juga berarti memahami dua budaya yang berbeda, manfaatnya, anak memiliki jaringan sosial lebih luas dan menyadari adanya perbedaan budaya.

Cara-cara untuk mengajarkan anak dua bahasa:

  • Menggunakan gambar. Anda dapat menunjukkan gambar sambil mengucapkan apa yang ada dalam gambar tersebut dengan menggunakan bahasa kedua.
  • Belajar menggunakan musik dan irama. Lirik yang dikombinasikan dengan musik membuat anak lebih mudah untuk belajar karena anak lebih mudah untuk mengingatnya.
  • Belajar dengan menggunakan gerakan tubuh. Ajak anak untuk menggunakan tubuh dan pikirannya secara bersamaan. Ini dapat membantu anak untuk mengingat.
  • Bermain sambil belajar. Anda dapat melakukan berbagai hal menyenangkan dengan anak Anda sambil mengajaknya berbicara dengan bahasa kedua.
  • Mengajarkan anak dengan santai. Jangan memarahi anak ketika ia tidak dapat mengikuti Anda. Membuat anak stres saat belajar dapat mengurungkan niat anak untuk belajar.

Wah ternyata banyak sekali ya manfaatnya. Lalu bagaimana apakah Anda berminat untuk mengajarkan sang anak mempelajari dua bahasa? Atau sudah menerapkannya di rumah?

Alasan Orang Tua Meminta Maaf

Alasan Orang Tua Meminta Maaf ke Anak

Assalamualaikum Bunda, saat anak salah tentu kita ingin mereka mengakui kesalahannya dan bahkan mengucapkan maaf sebelum diminta.

Lalu bagaimana dengan kita? Perlukah kita meminta maaf? Jika perlu apa alasannya?

Faktanya banyak pelajaran yang dapat dipetik dari anak maupun orang tua saat orang tua hendak minta maaf terlebih dahulu.

Berikut alasannya:

Bukan Bentuk Menyerah
Meminta maaf dengan nada suara yang tegas akan menunjukkan jika Anda bukanlah orang tua yang nantinya akan mudah luluh dengan sikap anak.

Ketegasan tetap perlu ditegakkan. Tak perlu bersikap terlalu lembut dalam meminta maaf ke anak, karena dengan nada suara yang biasa pun mereka akan tahu siapa yang berkuasa di rumah. Selama kata ‘maaf’ dilontarkan, maka hal ini sudah menjadi bentuk pendidikan orang tua kepada anak.

Merupakan Contoh yang Baik
Mengubah perilaku dengan cara meminta maaf terlebih dahulu menjadi contoh baik untuk mengajarkan mereka dalam bersikap. Meskipun sulit mengakui kesalahan, namun hal ini merupakan langkah yang paling tepat untuk menunjukkan sebuah karakter diri dan bukan sebuah kelemahan.

Menjadi Cara Mendidik Anak
Jika Anda merasa telah berbuat salah karena sudah memarahinya, maka minta maaflah untuk menunjukkan jika Anda juga peduli terhadap perasaan anak. Tak perlu gengsi, karena meminta maaf bisa memperkuat jalinan kasih antar orang tua dan anak.

Bentuk Saling Menghargai
Mulai akui kesalahan Anda jika memang berbuat salah, agar anak bisa belajar memaafkan. Tindakan ini akan mengajarkan mereka sebuah tanda kasih sayang dan sikap menghargai antar sesama.

Meminta Maaf akan Membuat Diri Lebih Baik
Bagi orang tua yang pernah memarahi anaknya, tentu menyimpan perasaan ‘bersalah’ atas sikapnya mereka kepada sang anak. Meminta maaf merupakan cara untuk melegakan pikiran dan perasaan bersalah. Sikap ini akan lebih memfokuskan diri Anda dalam mendidik anak ketimbang mementingkan ego sendiri.

Semoga bermanfaat!

Sumber : https://www.haibunda.com/

Permanainan Anak

Yuk Intip Aneka Permainan Untuk Tumbuh Kembang si Kecil

Permaianan – Sebagai seorang ibu tentunya ingin segala yang diberikan dan diterima buah hati merupakan yang terbaik demi tumbuh kembangnya. Seperti pemberian makanan dengan gizi yang cukup, waktu luang untuk mencurahkan kasih sayang dan tak lupa memberikan permainan yang cocok dan memberi efek baik kepada tumbuh kembang anak.

Lalu bagaimana mengetahui si anak sudah cocok dikenalkan jenis permainan tertentu dalam umurnya yang baru menginjak satu tahun misalnya? Yuk intip kiat ini berikut:

 

  • Permainan paralel

 

Si Kecil bermain disamping temannya tetapi mereka tidak saling berinteraksi. Setelah mengamati apa yang dilakukan temannya, mungkin si Kecil akan menirunya.

 

  • Permainan asosiatif

 

Sedikit mirip dengan permainan paralel, tetapi dalam permainan ini si Kecil terlibat dalam apa yang dimainkan oleh temannya. Misalnya sama-sama memainkan balok, tetapi masing-masing menyusun sendiri, sambil mengobrol dan akhirnya tersusun kota dari bangunan-bangunan yang disusun oleh si Kecil dan temannya. Melalui permainan ini si Kecil belajar bersosialisasi, cara memecahkan masalah, bekerjasama dan mengembangkan kemampuan bahasanya. Si Kecil juga mulai belajar menjalin pertemanan.

 

  • Permainan imitatif

 

Si Kecil meniru permainan temannya atau sebaliknya temannya meniru permainan yang dilakukan si Kecil.

 

  • Permainan soliter

 

Bermain sendiri. Sesekali biarkan si Kecil bermain sendiri karena permainan soliter mengajari anak bagaimana dia bisa menghibur dirinya sendiri. Permainan ini paling banyak dimainkan oleh anak usia kurang dari 3 tahun.

 

  • Permainan kooperatif

 

Sejalan dengan pertambahan usianya, si Kecil mulai bermain dengan anak lainnya. Si Kecil mungkin akan membantu temannya menyusun balok. Tetapi kebanyakan anak baru siap untuk bermain kooperatif setelah usianya lebih dari 3 tahun.

 

  • Permainan dramatik/fantasi

 

Jika si Kecil bermain dokter-dokteran atau bermain restoran, itu artinya si Kecil sedang bermain fantasi. Melalui jenis permainan ini, si Kecil belajar berimajinasi, bergantian, bekerjasama, berbagi dan mengembangkan bahasanya. Melalui permainan peran ini si Kecil juga belajar tentang fungsi suatu profesi di dalam masyarakat.

 

  • Permainan konstruktif

 

Menyusun balok, membuat jalanan, membuat tenda dari kursi yang ditutupi selimut, merupakan contoh permainan konstruktif. Permainan ini mengajarkan si Kecil tentang membangun dan menyusun, juga membantu mengembangkan kemampuan kognitifnya.

 

  • Permainan fisik

 

Lebih banyak melibatkan kemampuan motorik halus dan kasar, seperti melempar bola, bersepeda. Permainan fisik penting untuk mendorong si Kecil supaya aktif.

 

  • Permainan kompetitif

 

Bermain ular tangga adalah salah satu contoh permainan kompetitif. Disini si Kecil belajar tentang aturan permainan dan giliran bermain. Dalam permainan ini ada yang menang dan ada yang kalah, jadi Ibu harus siap memberikan penjelasan jika si Kecil kemudian kalah dalam permainan ini.

 

Sumber : ibudanbalita.com

 

#parenting #asuhanak #mengasuhanak #permainan #permainanasik #permainanmenarik #belajar #mengenalpermainan #permainanmenyenangkan #permaninanmotorik #ibu #ibuanak #buahhati #aqiqah #aqiqahan #aqiqahsaungdomba #aqiqahdepok#aqiqahanak  #aqiqahbuahhati #akikah #akikahan #akikahdepok #aqiqahjabodetabek #jasalayananaqiqah #aqiqahmurah#aqiqahtangerang #aqiqahbekasi#aqiqahjakarta #aqiqahsesuaisyariah #aqiqahanakjabodetabek